PT Microsoft Indonesia meluncurkan MED+ atau aplikasi ilmu kedokteran bekerja sama dengan pengembang aplikasi PT Vertikal Integrasi Internasional dan Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Aplikasi MED+ tersebut diyakini mampu mempermudah pembelajaran anatomi, fisiologi dan patalogi pada tubuh manusia secara tiga dimensi bagi para pelaku dunia kedokteran.

Education Lead PT Microsoft Indonesia Benny Kusuma mengatakan sebagai perusahaan peranti lunak dan perangkat layanan, Microsoft mencoba memberikan layanan terhadap dunia kedokteran di Indonesia.

“Jadi nanti para mahasiswa, dosen atau bahkan dokter sekalipun bisa menggunakan aplikasi MED+ untuk membantu pembelajaran berbasis teknologi,” paparnya usai peluncuran MED+ di kampus UI, Kamis (18/12/2014).

Benny mengutarakan para pelaku dunia kedokteran bisa memanfaatkan aplikasi tersebut sebagai bahan ajar alternatif pada objek tubuh manusia. Konten dalam MED+, ungkapnya, diciptakan menyerupai anatomi, fisiologi dan patalogi manusia.

Dia mencontohkan ketika para pelaku dunia kedokteran tidak seluruhnya memiliki akses mempelajari tubuh pada jenazah atau mayat manusia, mereka bisa menggunakan aplikasi MED+ tersebut.

“Selama ini misalnya mahasiswa kedokteran mempelajari anatomi pada mayat, selain mahal biayanya, kesempatan menganalisanya juga terbatas. Nah, dengan MED+ ini mahasiswa bisa terus mempelajari hanya dengan membuka aplikasi tersebut,” paparnya.

Menurutnya, aplikasi MED+ memuat enam modul pembelajaran sesuai standar ilmu kedokteran yakni sistem kardiovaskuler, pencernaan, pernafasan, reproduksi, urinal dan sistem saraf.

Dia menambahkan aplikasi MED+ dilengkapi dengan Office 365 yang mampu mendukung produktivitas dan kolaborasi antar pelaku dunia kedokteran. Aplikasi tersebut, lanjutnya, untuk sementara bisa diunduh secara gratis dengan plat form Windows 8.1.

Chief Executive Officer PT Vertikal Integrasi Internasional Andrey Hidayat selaku pengembang MED+ mengatakan aplikasi tersebut sudah dikembangkan sejak 2012.

Pihaknya merasa prihatin terhadap perkembangan dunia kedokteran di Indonesia yang dinilai belum menyeluruh berbasiskan teknologi informasi.

Menurutnya, dari 21.000 lulusan perguruan tinggi fakultas kedokteran di Indonesia, penggunaan aplikasi khusus untuk dunia kedokteran dinilai terlalu minim.